Anda di sini

Terkenang kunjungan ke Manado dan keliling Sulawesi Utara

Advertisement
 

APA khabar? Samua bae-bae saja? Semoga baik-baik saja semua. Saya teringat kunjungan ke Kota Manado kira-kira dua tahun yang lalu. Kota Manado kini sudah berusia 397 tahun sejak diwujudkan pada tahun 1623.

"Torang Samua Basudara," kata Pak James Gopang, seorang rakan di Kota Manado. Maksudnya kita semua bersaudara. Itulah antara ungkapan yang paling saya ingat jika mengenang perjalanan ke ibu kota Sulawesi Utara itu.

Sebenarnya saya tidak pernah mengimpikan untuk berkunjung ke Manado yang dikenali sebagai 'Land of Smiling People' itu. Tapi suatu hari, rakan-rakan dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kota Kinabalu mengajak saya ke sana untuk membuat liputan rombongan Fam Trip selama tiga hari.

Dari Lapangan Terbang Antarabangsa Kota Kinabalu kami terbang ke Jakarta. Tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta, kami transit sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke Manado dan tiba kira-kira  tiga jam kemudian di Bandara Dr Sam Ratulangi.

Rombongan kami disambut oleh ASITA (Association of Indonesian Tours & Travel Agencies) diketuai oleh Ibu Merry Karouwan. Saya teringat pemandu pelancong kami, Pak Mario menghidangkan kami kuih cucur, salah satu kuih tradisional Manado. Kuih cucur sama dengan kuih pinjaram di tempat kita di Sabah.

 Sebahagian Kota Manado dilihat dari jendela Hotel Peninsula.
INDAH: Sebahagian Kota Manado dilihat dari jendela Hotel Peninsula.

Selepas itu kami dibawa ke Mantos, nama popular untuk Manado Town Square3 dan dijamu makan malam di Restoran Star.

Pak Mario atau nama lengkapnya Mario Salomo Ben Gavriel Sarinsang Pantow. Orangnya masih muda dan memiliki banyak maklumat dan pengetahuan mengenai Kota Manado dan sejarahnya.

Kami menginap di Hotel Peninsula, sebuah hotel terkemuka di Kota Manado. Keesokan harinya kami ke Kawangkoan, Tutuyan, Boltim,Lolak  dan kemudian menginap di Kota Kotamobago.

 Pemandangan di Kawangkoan.
KAWANGKOAN: Pemandangan di Kawangkoan.

Kemudian kami meneruskan perjalanan ke Bolmong sebelum berbalik lagi mengikuti laluan Jalan Trans Sulawesi. Di sepanjang perjalanan itu kita melihat ladang kelapa yang luas.Mungkin itu sebabnya, Sulawesi Utara terkenal dengan nama 'Bumi Nyiur Melambai'.

Kami sempat juga berkunjung ke pulau Bunaken, sebuah pulau yang terkenal sebagai tempat menyelam yang terbaik, dengan keindahan bawah lautnya yang menakjubkan.

Dalam perjalanan itu, kita dapat melihat pemandangan Kota Manado yang dipagari pergunungan dan kelihatan cantik, walaupun jika dilihat dari jauh.

Jambatan Soekarno dan Monumen Lilin setinggi 50 meter terlihat agak menonjol. Tetapi yang paling mengesankan ialah masyarakatnya yang berbilang etnik, tapi hidup penuh toleransi dan harmoni.

Penduduk Sulawesi Utara  terdiri dari berbilang kaum - antaranya Minahasa, Bolaang Mongondow dan Sangihe Talaud - yang memiliki identiti dan kebudayaan masing-masing.

 Penulis bergambar di Tanjung Silar.
TANDA KENANGAN: Penulis bergambar di Tanjung Silar.

Torang Samua Basudara, kata orang Manado yang selalu membuat kita aman, yang kehadirannya selalu dialu-alukan. Ungkapan ini juga memperkukuhkan semangat toleransi dan kerukunan hidup masyarakat di Kota Manado.

"Mari kita pelihara kebersamaan serta sikap hidup yang saling menghormati dan menjaga toleransi di antara berbagai perbedaan yang ada di tengah kita." Saya teringat kata-kata Walikota GS Vicky Lumentut, seperti yang dikutip Tribun Manado waktu itu.

Tapi yang paling menarik bagi saya ialah pernyataan singkat Dr Sam Ratulangi yang berbunyi 'Si tou timou tumou tou' yang bermaksud 'manusia baru disebut manusia jika sudah dapat memanusiakan manusia'. Kata-kata Dr Sam itu membuat saya berfikir, bolehkah kita disebut manusia yang sudah memanusiakan manusia.

 Nenas salah satu hasil utama.
HASIL UTAMA: Nenas salah satu hasil utama.

Sambil menikmati perjalanan mengelilingi keindahan wilayah paling utara di pulau Sulawesi, kata-kata Dr Sam Ratulangi ini terus terpahat dalam fikiran.

Dr Sam Ratulangi adalah Pahlawan Nasional Indonesia, yang lahir di Tondano. Beliau dikenali sebagai ahli politik, wartawan dan guru. Sam Ratulangi memperolehi ijazah sarjana dalam bidang pengajaran dan sains di Universiti Amsterdam,Belanda. Selepas itu beliau melanjutkan pengajian di Universiti Zurich Swiss hingga mendapat gelar PhD pada tahun 1919.

Bagi Sam Ratulangi (1890-1949), Gabenor Sulawesi Utara yang pertama  ini, falsafah Si tou timou tomuo tou ini sangat penting. Kini walaupun sudah meninggal lebih 70 tahun lalu, kata-kata Sam Ratulangi ini masih menggema sampai kini.

 Pantai Losari di Lolak.
INDAH: Pantai Losari di Lolak.

Itu sebabnya, ketika Pak Mario, pemandu pelancong kami menjelaskan maksud kata-kata itu, saya teringat perjuangan Sam Ratulangi membebaskan rakyatnya dari kemunduran melalui pendidikan dan kegigihannya menentang kolonialisme di Indonesia.

Selain keindahan wilayah paling utara di Sulawesi Utara itu, apa yang menarik ialah beberapa persamaan kosa kata  bahasa manado dengan beberapa bahasa tempatan di Sabah. Antaranya Ama’ (bapa), Ina’ (Ibu), Paniki (kelawar) dan banyak lagi perkataan lain. Tetapi ini tidak terlalu menghairankan kerana bahasa manado tergolong dalam bahasa Melayu Austronesia.

 Kota Manado dari jauh.
DARI JAUH: Kota Manado dari jauh.

Memang banyak lagi yang belum sempat dikunjungi. Antaranya makam Tuanku Imam Bonjol, pahlawan yang pernah dibuang ke sana oleh Belanda. Banyak lagi tempat menarik.

Bagi yang suka melancong boleh melihat pasir pantai Siladen, Pulau Lihaga, Gunung Api Mahangetang, Air Terjun Tumimperas, Bukit Doa Tomohon,Bukit Kasih Kanonang dan sebagainya.

 Ikan masak rica rica.
MENYELERAKAN: Ikan masak rica rica.

Torang samua basudara. Terngiang lagi kata-kata itu. Tapi kata Dr Sam Ratulangi 'manusia baru disebut manusia jika sudah dapat memanusiakan manusia'. Sungguh benar. Semoga kita samua bae-bae saja. Itulah antara bunyi kiriman WhatsApp saya kepada Pak Mario di Kota Manado.

 Tanjung Silar.
TUMPUAN PELANCONG: Tanjung Silar.