Anda di sini

Di Gedung Merdeka, mengenang persidangan Asia Afrika 1955

Advertisement
"Saya membayangkan diri saya sebagai salah seorang wartawan dari luar negeri yang membuat liputan peristiwa penting dan bersejarah itu."
"Saya membayangkan diri saya sebagai salah seorang wartawan dari luar negeri yang membuat liputan peristiwa penting dan bersejarah itu."

"DUNIA kita yang malang ini terpecah belah dan ternyata rakyat dari semua negeri berada dalam ketakutan kalau-kalau di luar kesalahan mereka serigala-serigala peperangan akan lepas lagi dari rantainya," kata Presiden Soekarno ketika berucap pada majlis perasmian Konferensi Asia-Afrika pada 18 April 1955. 

Dalam ucapan selama 40 minit, terdengar lebih 10 kali tepuk tangan panjang yang membuatkan proklamator kemerdekaan itu bersemangat menyampaikan pidato di hadapan perwakilan 23 negara Asia dan enam negara Afrika serta pemerhati dari beberapa buah negara lain.

Saya dapat merasakan getar semangat perjuangan ketika memasuki Gedung Merdeka ,yang kini menempatkan Museum Konferensi Asia Afrika, dalam kunjungan ke Bandung, Jawa Barat, Indonesia pada tahun lalu.

 Wartawan sibuk membuat liputan sidang media.
SIBUK MEMBUAT LIPUTAN: Wartawan sibuk membuat liputan sidang media.

Saya membayangkan diri saya sebagai salah seorang wartawan dari luar negeri yang membuat liputan peristiwa penting dan bersejarah itu.

Seramai 376 wartawan, 163 dari Indonesia dan 213 dari negara negara asing meliput persidangan yang dihadiri oleh pemimpin-pemimpin Asia dan Afrika, dimana kebanyakan negara peserta baru merdeka dan lepas dari penjajahan selepas Perang Dunia Kedua berakhir.

Persidangan Asia Afrika diadakan di Bandung pada 18-24 April 1955. Itulah kali pertama negara-negara Asia dan Afrika mengadakan pertemuan paling besar. 

Sebanyak 25 negara Asia dan Afrika diundang untuk mwnghadiri persidangan itu tetapi hanya 24 yang hadir. Antara negara yang hadir pada ketika itu ialah Afghanistan, Burma, Kemboja, Sri Lanka, Republik Rakyat China, Mesir,Ethiopia, Gold Coast, India, Indonesia, Iran, Iraq, Jepun, Jordan, Laos, Lubnan, Liberia, Libya, Nepal, Pakistan, Filipina, Arab Saudi, Sudan, Syria, Thailand, Turki, Vietnam Utara, Vietnam Selatan dan Yaman.

 Penulis bergambar di hadapan replika Presiden Soekarno yang sedang berpidato.
BERSAMA REPLIKA: Penulis bergambar di hadapan replika Presiden Soekarno yang sedang berpidato.

Pertemuan itu dirasmikan oleh Presiden Soekarno. Hasil dari persidangan yang diketuai oleh Perdana Menteri Indonesia,Ali Sastroamidjojo, sebuah deklarasi dikenali Dasa Sila Bandung dikeluarkan. 

Persidangan Asia Afrika diadakan ketika sebahagian besar negara-negara di Asia dan Afrika masih dijajah sehingga menimbulkan perasaan senasib dan sepenanggungan di kalangan mereka.

Saya membayangkan ketika itu, 18 April 1955, hari Isnin, warga kota Bandung berbaris sepanjang jalan Asia Afrika untuk menyambut dan menyaksikan kedatangan tamu tamu penting dari berbagai negara.

Delegasi dari berbagai negara berjalan meninggalkan Hotel Homann dan Hotel Preanger, sekitar jam 8.30 pagi waktu setempat, untuk menuju Gedung Merdeka menghadiri majlis perasmian  dengan memakai pakaian kebangsaan masing-masing, yang beraneka corak dan warna. 

Mereka disambut oleh oleh segenap warga dengan tepuk tangan meriah dan sorak sorai yang bergempita. Perjalanan anggota delegasi itu kemudian dikenali sebagai The Bandung Walks atau langkah bersejarah Bandung.

Tidak lama kemudian, kira-kira jam 9.00 pagi, rombongan Presiden dan Naib Presiden Indonesia, Soekarno dan Mohammad Hatta tiba di Gedung Merdeka dan disambut dengan pekikan 'Merdeka'.

 Antara pemimpin dunia yang menghadiri Persidangan Asia Afrika.
PEMIMPIN DUNIA: Antara pemimpin dunia yang menghadiri Persidangan Asia Afrika.

Kini, selepas 65 tahun kemudian, seolah-olah masih terdengar Pidato Bung Karno yang berjudu 'Let a New Asia and New Afrca be born. (Mari Kita Lahirkan Asia Baru dan Afrika Baru).

Soekarno dalam pidatonya yang terkenal itu berkata, walaupun berasal dari bangsa yang berlainan latar belakang sosial, budaya, agama, sistem politik, bahkan warna kulit berbeza-beza tetapi kita mampu bersatu, dipersatukan oleh pengalaman pahit akibat kolonialisme, oleh keinginan yang sama dalam usaha mempertahankan dan memperkukuhkan perdamaian dunia.

“Saya berharap konferensi ini akan menegaskan kenyataan, bahwa kita, pemimpin-pemimpin Asia dan Afrika, mengerti bahwa Asia dan Afrika hanya dapat menjadi sejahtera, apabila mereka bersatu, dan bahkan keamanan seluruh dunia tanpa persatuan Asia Afrika tidak akan terjamin. Saya harap konferensi ini akan memberikan pedoman kepada umat manusia, akan menunjukkan kepada umat manusia jalan yang harus ditempuhnya untuk mencapai keselamatan dan perdamaian. Saya berharap, bahwa akan menjadi kenyataan, bahwa Asia dan Afrika telah lahir kembali. Ya, lebih dari itu, bahwa Asia Baru dan Afrika Baru telah lahir!”

 Ruangan pameran muzium.
BERSEJARAH: Ruangan pameran muzium.

Antara pemimpin Asia Afrika yang datang ialah Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser,Perdana Menteri China Chou En Lai , Perdana Menteri India,Jawaharlal Nehru dari India, Putera Norodom Sihanouk dari Kemboja, Perdana Menteri Burma, U Nu, Raja Faisal Abdul Aziz, ketika itu Putera Mahkota Arab Saudi dan sebagainya.

Saya melihat antara hadirin yang datang, Dr Burhanuddin Al Helmi hadir sebagai pemerhati dari Tanah Melayu. Manakala Filipina menghantar 11 perwakilan antaranya Diodado Macapagal, Carlos P Romulo,Raul Manglapus, dan Domacao Alonto, salah seorang tokoh Islam dari Mindanao.

Berada di Gedung Merdeka, saya dapat merasakan perasaan dan semangat rakyat Asia dan Afrika membela rakyat dan ngaranya yang baru lepas dari belenggu penjajahan.

Antara yang baru merdeka ialah Indonesia ( 17 Ogos 1945), Filipina (14 Julai 1946), Pakistan (14 Og0s 1947), India (15 Ogos 1947), Burma (4 Januari 1948), Sri Lanka (4 Februari 1948) dan Republik Rakyat China (1 Oktober1949). Namun ketika itu masih ramai yang belum merdeka seperti Algeria, Tunisia, Maghribi, Congo dan banyak lagi.

 Perwakilan dari 29 negara hadir dalam persidangan itu.
GEDUNG MERDEKA: Perwakilan dari 29 negara hadir dalam persidangan itu.

Persidangan yaang diadakan selama seminggu itu menghasilkan sebuah deklarasi yang dikenali sebagai Dasasila Bandung iaitu satu deklarasi  berisi prinsip-prinsip dasar dalam usaha memajukan perdamaian dan kerja sama dunia. 

Antara isi dasa sila Bandung ialah menghormati hak-hak asasi manusia dan menghormati tujuan-tujuan dan prinsip-prinsip dalam Piagam PBB.,Menghormati kedaulatan dan keutuhan wilayah semua negara.,Mengakui persamaan darjat semua ras serta persamaan darjat semua negara besar dan kecil serta tidak campur tangan di dalam urusan dalam negeri negara lain.

 Berita mengenai persidangan yang disiarkan di akhbar seluruh dunia.
TERSEBAR DI SELURUH DUNIA: Berita mengenai persidangan yang disiarkan di akhbar seluruh dunia.

Sebelum ini, antara pemimpin-pemimpin yang pernah melawat muzium itu ialah Setiausaha Agung PBB, Boutros Boutros Ghali (1992) dan Kofi Annan (2005), Perdana Menteri China Li Peng (1990), Presiden Hu Jintao (2005)  Presiden Xi  JinPing (2015), Perdana Menteri India Manmohan Singh (2005), Junichiro Koizumi (2005) Perdana Menteri Tunisia Mohammad Ghannouci  (2005) dan ramai lagi.

Ketika berada dalam  Gedung Merdeka itu, dan mengenang semula Persidangan Asia Afrika 1955, saya terfikir mampukah generasi kita melahirkan tokoh-tokoh berkaliber seperti Soekarno, Mohammad Hatta,Gamal Abd Nasser, Jawaharlal Nehru dan sebagainya?