Anda di sini

"Leluhur kita sama"

 

..... Kata Zulkifli Azir, tokoh dan budayawan Bajau di Indonesia

"APAKAH ada orang Bajau di Indonesia? Jika ada, bagaimana cara hidup mereka? Di mana mereka berada? Sejak bila orang Bajau berada di wilayah Indonesia? Apa bahasa yang mereka gunakan untuk berkomunikasi?.

Mungkin ramai yang ingin tahu mengenai kewujudan masyarakat Bajau di Indonesia. Jika ingin berbicara mengenai suku Bajau, dan pelbagai aspek kehidupan mereka termasuk sejarah, bahasa, kebudayaan dan cara hidup, salah seorang tokoh dan budayawan Bajau Indonesia, Zulkifli Azir, mungkin boleh memberikan gambaran mengenai masyarakatnya.  

Hampir semua pulau dan perkampungan yang dihuni oleh masyarakat Bajau di Indonesia pernah dikunjungi oleh Pak Zulkifli, mantan Penolong Pengurus PT Pos Indonesia di Bandung.
Zulkifli Azir dilahirkan di Gowa Sulawesi Selatan pada 26 November 1963. Anak bungsu dari sepuluh bersaudara ini mendapat pendidikan awal di SD Negeri 5 Batutulis, Bogor sebelum meneruskan persekolahan di peringkat menengah di SMP Negeri 2 Kendari dan kemudian di SMA Negeri 1 Kendari.

Beliau mendapat pendidikan tinggi pos dari International Postal College, Bangkok Thailand. Selepas itu, beliau bekerja dalam perkhidmatan pos dan jawatan terakhirnya ialah Asisten Manajer PT Pos Indonesia di Bandung."

Wartawan UTUSAN BORNEO, ABD. NADDIN HJ SHAIDDIN berpeluang mewawancara Pak Zulkifli Azir di rumah Datuk Haji Mohd Said Hinayat di Kuala Putatan baru-baru ini. Pak Zulkifli berada di Sabah untuk menghadiri jemputan keluarga Bajau di Sabah. Dalam wawancara itu, Pak Zulkifli yang membahasakan dirinya `denakan’ atau saudara dalam masyarakat Bajau. Ikuti petikan wawancara bersama beliau:

UTUSAN BORNEO: Apa khabar denakan? Terima kasih kerana sudi memenuhi permintaan kami untuk sesi wawancara Sembang Sabtu Utusan Borneo. Sebelum kita berbicara lebih jauh, mungkin denakan boleh ceritakan sedikit latar belakang?

ZULKIFLI AZIR: Saya dilahirkan di Gowa, Sulawesi Selatan, pada 26 November 1963. Saya anak kesepuluh dari sepuluh bersaudara. Saya mendapat pendidikan awal di SD Negeri 5 Batutulis di Bogor, Jawa Barat kemudian melanjutkan pelajaran di SMP Negeri 2 Kendari selanjutnya ke SMA N1 Kendari. Selepas itu saya menempuh pendidikan tinggi pos di International Postal College, Bangkok Thailand pada 1984.

"Sesungguhnya sebutan Orang Bajau pada umumnya digunakan oleh penduduk di wilayah Indonesia Timur untuk menyebut suku pengembara laut yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Sebagai pengembara laut, mereka tidak saja boleh dijumpai di Indonesia, bahkan di Malaysia dan Flipina dan di seluruh wilayah Asia Tenggara. Dalam falsafah orang Bajau, di mana ada pasir putih, di situ ada orang Bajau."
"Sesungguhnya sebutan Orang Bajau pada umumnya digunakan oleh penduduk di wilayah Indonesia Timur untuk menyebut suku pengembara laut yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Sebagai pengembara laut, mereka tidak saja boleh dijumpai di Indonesia, bahkan di Malaysia dan Flipina dan di seluruh wilayah Asia Tenggara. Dalam falsafah orang Bajau, di mana ada pasir putih, di situ ada orang Bajau."

UB: Selepas itu, di mana denakan bekerja?
ZULKIFLI: Saya bekerja di Kantor Pos di Bandung hinggalah bersara sebagai Asisten Manajer (Penolong Pengurus) di PT Pos Indonesia Bandung pada 2018.

UB: Ramai yang ingin tahu mengenai kewujudan orang Bajau di Indonesia. Mungkin denakan boleh huraikan sedikit mengenainya?
ZULKIFLI: Sesungguhnya sebutan Orang Bajau pada umumnya digunakan oleh penduduk di wilayah Indonesia Timur untuk menyebut suku pengembara laut yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Sebagai pengembara laut, mereka tidak saja boleh dijumpai di Indonesia, bahkan di Malaysia dan Flipina dan di seluruh wilayah Asia Tenggara. Dalam falsafah orang Bajau, di mana ada pasir putih, di situ ada orang Bajau.

UB: Bagaimana mereka boleh tersebar di pelbagai wilayah di Indonesia? Saya lihat ada juga orang Bajau di Banggai Sulawesi Tengah, di Kendari, Sulawesi Tenggara, di Kangean, di Laut Jawa, di Tolitoli, Sulawesi Utara, di Torosiaje, di NTT dan sebagainya.
ZULKIFLI: Kehidupan orang Bajau banyak bergantung kepada sumber laut. Aktiviti pergi melaut pagi dan balik pada hari  yang sama, kami sebut `lilibu’  sementara orang yang melakukan lilibu , kami sebut ‘palilibu’.  Jika pergi turun ke laut dan balik lebih dari sehari tetapi kurang dari  sebulan, kami panggil `pongka’ manakala orang yang melakukannya disebut `papongka’.
Jika pergi melaut tetapi pulang lebih dari sebulan, maksimum  setahun, kami panggil lama. Ada yang berlayar semakin jauh sekitar nusantara.  Kalau sudah berlayar antara negara menggunakan perahu lepa kami panggil sakai, orang yang melakukannya dipanggil pasakai.Mereka  mencari ikan dan pulang berbulan-bulan kemudian.

"Kehidupan orang Bajau banyak bergantung kepada sumber laut. Aktiviti pergi melaut pagi dan balik pada hari  yang sama, kami sebut `lilibu’  sementara orang yang melakukan lilibu , kami sebut ‘palilibu’. "
"Kehidupan orang Bajau banyak bergantung kepada sumber laut. Aktiviti pergi melaut pagi dan balik pada hari yang sama, kami sebut `lilibu’ sementara orang yang melakukan lilibu , kami sebut ‘palilibu’. "

UB: Saya pernah melihat kehidupan orang Bajau di Banggai, ada di Youtube. Mereka membina rumah di laut?
ZULKIFLI: Ya, ada  Ada yang membina rumah di tengah laut, kami sebut papungkatang manakala tempat mereka dipanggil pungko.  Pungko ini bukan tempat tinggal secara tetap melainkan tempat mereka berlindung dari cuaca, tempat mereka menjemur ikan dan sebagainya. Mereka tetap mengambil air di darat. Jika sampai waktunya, mereka akan pulang semula ke darat. Ini yang anda  lihat di Youtube, yang pernah dikunjungi oleh orang Perancis, yang tinggal bersama mereka dan merakam kehidupan mereka.

UB: Boleh dikatakan bahawa orang Bajau di Indonesia tidak boleh dipisahkan dengan laut?
ZULKIFLI: Masyarakat Bajau, profesinya memang di laut. Mengikut Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, penduduk Bajau paling banyak ialah di Sulawesi Tengah.Selain Sulawesi Tengah, orang Bajau juga berada di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Barat, pesisiran Pulau Jawa, Kepulauan Kangean, kepulauan tukang besi, wakatobi dan banyak lagi.

UB: Ada orang Bajau di Jakarta?
ZULKIFLI: Di Kalibaru Jakarta, ada komuniti Bajau. Di Lampung Sumatera Selatan juga ada.

UB: Apa sebabnya mereka tersebar di pelbagai wilayah? Dan tidak bertumpu di satu tempat?
ZULKIFLI: Seperti yang saya katakan tadi, orang Bajau profesinya adalah di laut. Mereka adalah sebahagian dari Kerajaan Sriwijaya. Jika kita lihat peta empayar kerajaan Sriwijaya, kawasannya luas sekali.  Itu sebabnya orang Bajau tersebar di mana mana di Nusantara walaupun dengan sebutan nama yang berbeza. Tetapi di kalangan mereka, mereka tetap memanggil diri mereka `sama’.

"Sebutan Bajau adalah penamaan yang diberikan oleh orang lain terhadap orang Bajau sementara orang Bajau sendiri menyebut diri mereka sebagai sama atau orang sama dan menyebut orang lain di luar suku mereka sebagai bagai atau orang bagai. Orang bagai juga merujuk kepada orang darat atau kehidupan di darat. Jika berjumpa mereka akan bertanya, “sama ti ka mingga’ atau Bajau dari Mana?"
"Sebutan Bajau adalah penamaan yang diberikan oleh orang lain terhadap orang Bajau sementara orang Bajau sendiri menyebut diri mereka sebagai sama atau orang sama dan menyebut orang lain di luar suku mereka sebagai bagai atau orang bagai. Orang bagai juga merujuk kepada orang darat atau kehidupan di darat. Jika berjumpa mereka akan bertanya, “sama ti ka mingga’ atau Bajau dari Mana?"

UB: Mungkin boleh ceritakan mengenai sejarah Bajau di Indonesia?
ZULKIFLI:  Orang Bajau sudah tercatat dalam sejarah sejak ratusan tahun yang lalu. Dalam lontara Bugis, mereka disebut `tu ri je’ ne’ atau masyarakat yang hidup di atas laut. Raja Gowa yang pertama seorang perempuan bernama Tumanurung Bainea yang jatuh cinta  dan berkahwin dengan Karaeng Bahayo dari Bantaeng kira-kira pada tahun 1340.Karaeng Bayo adalah orang Bajau atau disebut Bayo mengikut sebutan lidah orang di bantaeng. Jadi kita lihat memang ada darah Bajau di kerajaan Gowa. Ada 15 benda pusaka yang disimpan di istana Gowa di Sungguminasa dan hanya dikeluarkan pada upacara adar  accera kalompoang. Accera kalompoang ini merupakan tradisi pencucian benda-benda pusaka. Daripada 15 benda pusaka itu, dua miliki karaeng bahayo rantai manila dan sundaga.

"Masyarakat Bajau, profesinya memang di laut. Mengikut Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, penduduk Bajau paling banyak ialah di Sulawesi Tengah.Selain Sulawesi Tengah, orang Bajau juga berada di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Barat, pesisiran Pulau Jawa, Kepulauan Kangean, kepulauan tukang besi, wakatobi dan banyak lagi."
"Masyarakat Bajau, profesinya memang di laut. Mengikut Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, penduduk Bajau paling banyak ialah di Sulawesi Tengah.Selain Sulawesi Tengah, orang Bajau juga berada di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Barat, pesisiran Pulau Jawa, Kepulauan Kangean, kepulauan tukang besi, wakatobi dan banyak lagi."

UB: Menarik sekali. Jika demikian, Bajau terdapat di berbagai tempat di seluruh nusantara.
ZULKIFLI: Dalam pepatah Bajau, di mana mana saja ada pasir putih, di situ ada pemukiman Bajau atau dalam bahasa Bajau di sana 'mingga -mingga mia gusak puti’, mi runi mia patta nang sama.

UB: Mengenai sebutan Bajau dan sama. Mungkin boleh denakan beri pencerahan?
ZULKIFLI: Sebutan Bajau adalah penamaan yang diberikan oleh orang lain terhadap orang Bajau sementara orang Bajau sendiri menyebut diri mereka sebagai sama atau orang sama dan menyebut orang lain di luar suku mereka sebagai bagai atau orang bagai. Orang bagai juga merujuk kepada orang darat atau kehidupan di darat. Jika berjumpa mereka akan bertanya, “sama ti ka mingga’ atau Bajau dari Mana?

"Orang Bajau sudah tercatat dalam sejarah sejak ratusan tahun yang lalu. Dalam lontara Bugis, mereka disebut `tu ri je’ ne’ atau masyarakat yang hidup di atas laut. Raja Gowa yang pertama seorang perempuan bernama Tumanurung Bainea yang jatuh cinta  dan berkahwin dengan Karaeng Bahayo dari Bantaeng kira-kira pada tahun 1340."
"Orang Bajau sudah tercatat dalam sejarah sejak ratusan tahun yang lalu. Dalam lontara Bugis, mereka disebut `tu ri je’ ne’ atau masyarakat yang hidup di atas laut. Raja Gowa yang pertama seorang perempuan bernama Tumanurung Bainea yang jatuh cinta dan berkahwin dengan Karaeng Bahayo dari Bantaeng kira-kira pada tahun 1340."

UB: Bagaimana orang Bajau di Indonesia berkomunikasi antara sesama mereka? Apakah mereka menggunakan bahasa Bajau?
ZULKIFLI: Mereka boleh berkomunikasi sesama mereka dalam bahasa Bajau. Apa yang berbeza mungkin sebutan mengikut dialek masing-masing. Saya sendiri pernah berkunjung ke pulau-pulau dan kawasan pemukiman orang Bajau. Saya mampu bercakap dalam bahasa Bajau mengikut dialek yang mereka gunakan. Mulanya memang sukar tetapi lama kelamaan saya boleh mengikut lenggok mereka berbicara.Apa yang boleh kita simpulkan orang Bajau memang tersebar di seluruh wilayah nusantara sejak zaman kerajaan Srivijaya. Itu sebabnya mereka terdapat di Indonesia, Malaysia dan Filipina dan wilayah lain juga di Nusantara. Hingga akhirnya mereka membentuk entiti dan identiti yang tersendiri. Tapi “kita bi kememon sama, min de ka kaemboan” yang bermakna “kita semua orang Bajau, berasal dari leluhur yang sama”.

"Sebenarnya saya berminat dalam kajian Bajau sejak dahulu lagi. Tapi mungkin boleh dicatat,  minat saya bertambah ketika melihat abang saya, Alimaturrahim, kini Presiden Yayasan Sama di Kendari, bercakap berjam jam dalam  telefon  dengan sahabatnya di Malaysia. Jika tidak silap, sekitar tahun 1987."
"Sebenarnya saya berminat dalam kajian Bajau sejak dahulu lagi. Tapi mungkin boleh dicatat, minat saya bertambah ketika melihat abang saya, Alimaturrahim, kini Presiden Yayasan Sama di Kendari, bercakap berjam jam dalam telefon dengan sahabatnya di Malaysia. Jika tidak silap, sekitar tahun 1987."

UB: Sebelum kita mengakhiri sesi wawancara dalam ruangan ini, mungkin denakan boleh beritahu bagaimana mulanya tertarik mengkaji budaya Bajau? Bagaimana mulanya denakan tahu ada orang Bajau di Sabah?
ZULKIFLI: Sebenarnya saya berminat dalam kajian Bajau sejak dahulu lagi. Tapi mungkin boleh dicatat,  minat saya bertambah ketika melihat abang saya, Alimaturrahim, kini Presiden Yayasan Sama di Kendari, bercakap berjam jam dalam  telefon  dengan sahabatnya di Malaysia. Jika tidak silap, sekitar tahun 1987. Bahkan ketika itu, beliau pernah diperingatkan oleh Telekom.”Biar saja, katanya tidak peduli.Ketika itu tidak ada hp atau whatsapp seperti sekarang. Belakangan saya tahu bahawa beliau bercakap dengan Datuk Haji Said Hinayat, tokoh budaya Bajau di Sabah. Mulai dari sana, saya tahu bahawa ada masyarakat Bajau di Sabah.

UB: Terima kasih denakan. Memang banyak lagi pertanyaan tetapi kerana waktu tidak mengizinkan, insyaAllah kita bertemu pada kesempatan lain. Terima kasih kerana sudi ditemubual mengenai orang Bajau di Indonesia.
ZULKIFLI:  Terima kasih banyak.