Anda di sini

Warga PPU menanti penuh debaran

Abdul Hadi
Abdul Hadi

Bersemangat melihat ibu kota baharu di kampung halaman

SEKALI PUN titik koordinat lokasi ibu kota baharu Indonesia belum diumum secara rasminya, namun warga Kecamatan Sepaku di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Indonesia, sudah bersiap menantinya penuh semangat.

Mereka yakin bahawa lokasi berkenaan adalah sekitar perkampungan mereka, apabila Presiden Joko Widodo menyatakan bahawa letaknya nanti ibu kota itu di daerah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dan Kabupaten Kuta Kartanegara.

Tinjauan mendapati warga Sepaku menyambut baik rancangan pemindahan ibu kota itu ke perkampungan mereka.

Hendro Susilo
Hendro Susilo

Anak jati Sepaku, Depi Kurnia, 34, mengakui bahawa pemindahan ibu kota itu nanti akan membawa impak pembangunan kepada perkampungan mereka.

"Yang pasti, pembangunan akan lebih terasa. Selama ini, infrastruktur jalan masih kurang bagus. Tapi sekarang sudah mulai diperhatikan,” kata Depi, sambil menyatakan rasa syukur dengan pemindahan ibu kota itu ke kawasan mereka.

Ketika tinjauan dibuat, beberapa bahagian jalan sedang diperbaiki. Menurut warga, keadaan berbeza sebelum ini kerana sering mengalami kerosakan, apatah lagi pada musim hujan.

Perpindahan ibu kota negara juga mengundang kekhuatiran warga setempat.
Menurut Depi, beliau risau jika nantinya angka jenayah meningkat, termasuk juga kebarangkalian demo seperti sering terjadi di Jakarta.

Seorang lagi warga Sepaku, Abdul Hadi, dari Desa Sukaraja optimis bahawa ibu kota baharu itu akan membuka lebih banyak peluang pekerjaan kepada penduduk setempat.

Paimin
Paimin

"Tentunya kita sangat senang jika pemindahan ibu kota negara terwujud," katanya yang berasal Jawa Timur dan datang ke Sepaku sebagai warga transmigrasi pada tahun 1977.

Beliau mengimbau saat kedatangan awal dahulu keadaannya begitu sukar, bahkan ada rakan-rakannya dari Jawa Timur kembali ke daerah asal kerana tidak tahan dengan kondisi kekurangan kemudahan asas.

Menurut Abdul Hadi, dampak pemindahan ibu kota jelas akan sangat baik. Tentunya fasilitas jalan akan semakin bagus sehingga membolehkan petani mudah mengeluarkan hasil pertanian mereka.

Katanya, pemindahan ibukota juga nantinya akan membuka banyak lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.

Justeru, katanya, masyarakat harus segera mempersiapkan diri agar nantinya tidak tersisih dengan warga pendatang. Ketrampilan dan keahlian harus segera ditingkatkan.

“Pemerintah tentunya akan mempersiapkan semuanya. Masyarakat tentu nantinya akan diberi berbagai ketrampilan,” katanya.

Lurah Maridan, Hendro Susilo, berkata pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur, khususnya di wilayah Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, terus membawa dampak pro dan kontra pada masyarakat.

Hendro tidak khuatir warganya akan tersisih oleh pendatang dengan perpindahan ibu kota dari Pulau Jawa ke Kaltim. Secara kultur dan kewilayahan, warga Kaltim selangkah lebih maju, selangkah lebih menguasai daripada para pendatang nantinya.

“Ibarat balapan, kami orang lokal setempat berada di garis terdepan saat bermula, sementara pendatang nantinya berada beberapa jauh di belakang. Secara persaingan kerja, kami siap bersaing dengan pegawai yang datang,” ujarnya.

Dampak pembangunan dari pusat pemerintahn nanti tentu diharapkan sangat besar bagi perkembangan kota.  Namun, dampak buruknya yang harus diantisipasi adalah pencemaran lingkungan dan sanitasi lingkungan dapat menjadi ancaman, manakala jumlah penduduk bertambah.

"Untuk yang kontra akan pemindahan ibu kota di Kaltim kerana adanya kekhuatiran nasib generasi mendatang yang akan rosak akibat pergaulan lebih luas.

"Sebagai contoh, kondisi  Kota Jakarta saat ini yang banyak maksiat dan kejahatan narkotika, obat-obat terlarang serta pergaulan bebas anak muda," katanya.

Warga Desa Sukomulyo, Sepaku, Paimin, berkata dia menyokong 100 peratus pemindaha ibu kota negara ke Kalimanta, dan menyifatkannya sebagai amat bertepatan sekali.

Paimin yang merupakan warga transmigrasi asal Jawa pada tahun 1975 berkata, dengan pemindahan ibu kota negara itu bererti pemerintah turut memeratakan pembangunan, sehingga tidak saja terpusat di Pulau Jawa.

Beliau berharap dengan pemindahan ibu kota baharu itu warga lokal yang memiliki pendidikan tinggi nantinya memiliki kesempatan untuk menjadi Aparatur Sipil Negara, ketika pemerintah membuka lowongan kerja, manakala pegawai golongan atau pangkat rendah tidak perlu datang dari Jawa.

“Boleh datang dari Jawa, tetapi untuk pegawai yang memiliki skill dan golongan tinggi saja, kalau untuk pegawai rendahan, sebaiknya membuka lowongan dari  pegawai lokal saja,” demikian harapan Paimin.

Beliau menjelaskan bahawa majoriti masyarakat Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, adalah petani.

"Mereka berkebun karet, kelapa sawit hingga padi. Bahkan, Kecamatan Sepaku ini berupakan sentra untuk komoditi tersebut, ditambah sebagai kecamatan penghasil durian, rambutan, lada dan sedikit kayu gaharu," katanya.

Menurutnya, persoalan negatif akibat berpindahnya ibu kota negara ke Kaltim tentu secara otomatis juga terjadi, namun yakin pemerintah akan menanganinya.
Antaranya termasuk pertambahan jumlah kenderaan, potensi kemacetan, potensi tingginya angka jenayahs dan kejahatan lainnya.

“Yang penting bagaimana pemerintah meminimumkan kesan-kesan negatif dari perpindahan ibu kota ini. Saya kira kesan positif akan jauh lebih besar daripada kesan negatif,” katanya.

Menurut Paimin, masyarakat  sekitar kecamatan Sepaku hidup rukun damai sejak tahun 1970-an lagi walaupun kecamatan dengan dua kelurahan dan 12 desa ini, didiami oleh banyak suku yang datang dari beberapa provinsi di Indoensia.

“Di sini lengkap sukunya. Ada Batak, Jawa, Tomir, Manado dan Dayak Paser dan lainnya. Kami telah hidup rukun selama puluhan tahun. Kalaupun ada masalah atau konflik antara suku, tidak lah terlalu besar. Dapat kita selesaikan secara kekeluargaan,” ujarnya

Warga Kecamatan Waru, Subur Priyono, menyatakan perasaan gembira dan setuju dengan perpindahan ibu kota negara ke Kabupaten PPU.

"Pastilah akan berdampak pada daerah ini yang akan mengalami perubahan besar dan jauh  lebih maju dalam berbagai bidang pembangunan, terutama infrastruktur jalan, gedung-gedung, air bersih, elektrik dan lain-lain.

"Contoh, ketika Kabupaten PPU belum dimekarkan dan masih merupakan sebuah bahagian dari Kabupaten Paser tahun 2017 silam, Kecamatan Penajam saat itu hanya memiliki dana berkisar Rp2 miliar, segala urusan jauh  harus ke Kabupaten Paser sebagai ibu kota kabupaten, sulitnya urusan birokrasi dan sebagainya.

"Namun ketika Penajam menjadi sebuah Kabupaten PPU baharu, alhamdulillah berbagai sektor pembangunannya mengalami kemajuan secara signifikan. Bahkan, APBD Kabupaten PPU pernah lebih dari Rp2  triliun.

Subur Priyono
Subur Priyono

"Jika ibu kota nantinya berasa di Kabupaten PPU, berbagai pembangunan secara drastis  akan mengalami kemajuan dan perkembangan. Begitulah kira-kira contoh perubahan yang kami rasakan  jika PPU menjadi ibukota negara, kemajuan secara luar biasa pasti akan terjadi di daerah ini," katanya.

Mengenai kebimbangan mengenai kesesakan lalu lintas, beliau yakin ia tidak akan terjadi kerana PPU mempunyai kawasan yang begitu luas dan boleh dirancang sejak awal.

"Harapan terbesar saya sebagai warga PPU adalah pembangunan jambatan Teluk Balikpapan yang dapat menghubungkan Kabupaten PPU dan Kota Balikpapan, supaya pergerakan orang, barang dan kenderaan menjadi lebih lancar," katanya.

\

Depi Kurnia
Depi Kurnia